Quarter Life Crisis

I remember lying down in an apartment in Perth, in 2019, thinking that a lot had changed in just one year. I remember thinking that time was an illusion because I felt like I was abducted by aliens; living in a different timeline, not at all connected to the world, and knowing that nothing would be the same when I’m back.

I was right. Until 6 months ago, whenever I introduced myself as a 24-year-old, people would look at me as if I’m the luckiest person in the universe, followed by, “Oh! I wish I were 24.”, or “God! You’re still a baby. So many things in this world waiting for you.”

Then I’m back on “earth”, or in my case, Bali, and everyone had aged so much. Suddenly, I’m too old, too late, or too slow. Suddenly, all the jealous looks I got when I mentioned my age, turned into pity looks.

“Oh, you’re almost 25. When are you getting married? Do you even have a boyfriend?”

“Are you going to continue your study so you can work?”

“What’s your plan?”

Here is the truth: I don’t have any. Here I am now, one month into turning 25 and deciding to stay home a bit longer due to a pandemic, which most people think is over. “Wasting” my youth, “not knowing” what I want to do with my life, and feeling “lost”.

One thing that people don’t understand, and I sometimes forgot, is that I chose to get lost. I just knew that I wanted my early 20s, or maybe even my whole 20s, to be about exploring, crossing things off the list, and being confused. I want to ask as many questions as possible and seek for answers.

 

Some people regret things they did, some people regret things they didn’t do.

Some people regret their mistakes, some people regret not finding out.

Some people regret wasting time, some people regret making hasty decisions.

I fall into the second groups, and that’s only one of the reasons.

 

Sometimes, we choose something only because we have been considering the options for too long.

We often say “yes” only because we have said “no” four times in a row.

We think we have to do something only because we haven’t done anything in a while and we make commitments only because we think we are running out of time.

We think we are too late, so we stop considering options just to get it over with.

But, what if we are supposed to rest? What if we are supposed to say no again, and again, because the thing that’s meant for us isn’t here, among the choices?

What if we are not meant to choose at all at this moment?

We were told that getting to know ourselves, pattern, and timing is a waste of time.

What if we were told to observe, wait patiently, and make a wise decision when it’s clear enough for us?

What if we stop taking other people’s standard and illusion about timing, and try to find our truth, our path, and our purpose?

This illusion called time and timing had done nothing but damages in people’s lives. We rush into things to fit society’s standards, ignoring our own timing. So many wounds are left unhealed and are passed for generations because everyone thinks they have no time to sit and recognize them. So many gifts and talents are left buried because we were told to do certain things at certain ages to define success. And there are just too many what-ifs.

I might not know what exactly I want, but every single day, I know more things that I don’t want.

I don’t want to be 45 and wondering what it feels like to kiss a girl when you’re 17, or almost fell into the idea of marrying a guy because it made sense at the moment, and get the chance to realize it was a silly idea. I don’t want to pass my unhealed wounds and patterns to my future kids, partner, or friends.

I have been feeling not ready for a long time, so I will definitely know what ready feels like.

Do I experience quarter-life-crisis? Well, my whole life has been an existential crisis, so I’m used to it. But yes, of course. Sometimes I look at people my age and they are either traveling, studying, living their wildest life, married, or becoming super spiritual. I once thought I had to choose one of those and live according to the list that comes with the label.

But the more I walk, the more I realize that life is not like choosing an extracurricular.

Maybe I’m not doing any of those right now, but have I tried at least one thing from other people’s life choices? Yes.

Have I found something that makes me want to settle? Not yet, and I hope not anytime soon.

I gain and change perspectives all the time, I’m progressing every day, I’m learning something new every single moment, I’m healing, and I’m finding my own truth, path, and purpose.

To my future self, whenever a question like, “why didn’t I do this sooner?” pops up in your mind, this is your answer.

Tentang Diri #2

Saya mau berbagi tentang cara menemukan diri sendiri setelah melewati perjalanan yang mengalihkan perhatian. Saya pernah berjanji mau menulis tentang ini bertahun-tahun lalu, tapi kemudian saya merasa tidak perlu, karena merasa diri sendiri sudah terselamatkan.

 

Beberapa tahun belakangan, saya percaya bahwa perjalanan yang sejati adalah perjalanan menemukan diri sendiri, dan apa-apa yang kita temukan selama perjalanan hanyalah bonus dan pelajaran.

Setiap kali ada yang bercerita soal bagaimana hubungannya baru berakhir dan tidak tau harus ke mana, saya merasa tidak relate lagi dan cuma saya temani sebisanya.

Tetapi, akhir-akhir ini saya menemukan satu pola lama yang terulang, di mana saya memulai obsesi-obsesi baru setiap harinya. Tipikal diri saya ketika ada stres atau isu-isu yang belum diproses dan dijamah untuk disembuhkan. Di satu sesi meditasi, saya menemukan bahwa saya merasa stres sejak mendengar berita yang mengatakan bahwa Indonesia akan segera kembali normal. Masuk akal, tentu saja. Tapi anehnya, sesi itu tidak menghentikan usaha saya mengalihkan perhatian, bermain game sampai pagi, melupakan rutinitas-rutinitas sehat yang baru saya kembangkan, dan menyiksa diri sendiri dengan tidak tidur berhari-hari.

 

Singkat cerita, setelah saya gali lagi, saya menemukan bahwa akar masalahnya bukan ketakutan akan virus, atau rasa ingin menjaga keluarga seperti yang saya temukan di sesi sebelumnya. Ternyata, saya takut jika dunia ini kembali normal, orang-orang akan menemukan kembali hidup mereka, dan takut jika itu adalah sesuatu yang tidak saya punya. Saya baru menyelesaikan satu bab di buku kehidupan saya dan saya tidak tau bab mana yang harus dilanjutkan setelah periode ini. Saya kebingungan tentang “normal” yang mana yang harus saya tuju jika harus “kembali”.

 

Ini mengingatkan saya tentang kesah orang-orang yang bertanya tentang harus kembali ke mana setelah satu hubungan berakhir. Perasaan, “sampai di mana tadi?” yang membuat kita merasa kosong dan bingung ketika kembali ke realita.

 

Ternyata, jawabannya sederhana, saya tidak perlu bingung bab yang mana yang harus dituju karena saya tidak akan melanjutkan salah satunya. Periode ini juga salah satu dari bab-bab di buku kehidupan saya. Jika ini berakhir, yang harus saya lakukan adalah memulai bab selanjutnya.

 

Sesederhana itu.

 

Masa depan saya terlihat buram dan berkabut, itu semua hanya karena saya sibuk melihat ke belakang dan memikirkan bab mana yang terakhir saya baca. Singkatnya, yang perlu saya lakukan cuma berbalik badan.

 

Ini dia jawaban yang seharusnya saya berikan. Jangan mencari ke mana harus kembali, karena hubungan, atau pun bentuk-bentuk lain dari kehilangan, juga salah satu dari bab dalam buku kehidupan. Kita di saat ini adalah kita yang berbeda sebelum hubungan atau perjalanan yang baru saja berakhir. Kenali diri yang ini, duduk bersama lukanya, obati, dan jika sudah siap, kita akan memulai bab berikutnya.

 

 

 

Omong-omong, mungkin kamu perlu mendengar ini..

 

Jika kamu saat ini sedang patah hati dan berusaha menemukan diri sendiri lagi, selamat.

Ada bagian dari dirimu yang rindu. Ada pesan-pesan yang mau dia sampaikan. Karena patah hati adalah cara diri mengingatkan untuk tetap berjalan ke tujuan, dan kita mungkin akan salah jalan jika dilanjutkan.

 

Dalam perjalanan, kita bertemu orang-orang dengan kecepatan dan arah yang sama, dan hanya selama itu pula kita akan berjalan berdampingan. Suatu saat akan ada persimpangan, akan ada yang langkahnya melambat, atau semakin cepat. Ketika kita tidak lagi berjalan dengan kecepatan dan arah yang sama, kita hanya perlu melambaikan tangan dan berterima kasih pada mereka yang pernah berjalan bersama kita. Tidak perlu menyesuaikan langkah, memaksa mereka berhenti, atau mengubah arah cuma karna takut sendiri.

 

Jika kamu bingung harus ke mana setelah ini, mungkin karena perjalanan selanjutnya bukan tempat nyata yang bisa dituju dengan kaki. Mungkin yang selanjutnya ada di peta adalah perjalanan ke dalam diri.

I Am New but I Am Not

This journey has been a roller-coaster, a crash course of everything.

I remember every part of my life where I got to experience the wildest, weirdest things, and when I experienced intense pains and feelings. But most importantly, I got to experience different kinds of lives in a lifetime.

They were all so intense, but short-lived and relatively fast. Like, a crash course.

When things ended, I was so disappointed and convinced that it would be really hard for me to move on.

Surprisingly, I was wrong.

I quickly learned the lessons they brought, healed, and transformed into a new person to the point where I forgot about the pain of endings.

Everything was like a ladder that brought me to a higher place.

As I wrote before, after I decided to surrender, I’m going through some purging. Mentally, spiritually, socially.

I felt crazy, I lost people, unresolved traumas and wounds came up to the surface.

Now, only months after, even though I’m still in a transition, I’m slowly integrating.

I feel less dissociated, and now I have only two different modes. One is the ego, who seeks only easy things, who wants to play games mindlessly, thinks only about itself, and overcompensates the extremities.

It’s unbelievable how resistant my ego was (and still is).

I feel like an imposter, I constantly doubt myself. Even when my life has been like I’m in the movie Evan Almighty, my brain always comes up with different reasons to deny everything.

..and the other one is the real me, that had been buried for so long.

Every time I start meditating, I feel like I’m there instantly.

See, after one of my LSD trips told me about this journey, I started keeping journals. Every time I meditated, or when I felt like I was in a higher state of consciousness, or of course, tripped, I automatically wrote.

There are so many pages and different topics covered, and they are not as awkward as my conscious, rusty writings in this blog. In fact, they are nothing like how I write here. They are all so articulate and full of wisdom.

Of course, my ego convinced me not to take them seriously and that I sounded too deluded.

This year, I finally began to do more research, to hear about other people’s spiritual journeys, to learn from spiritual coaches, and to confirm every uncanny thing that I experience.

I, someone who would do anything to avoid sounding unscientific, felt every word that they were saying, resonated with me. It’s like we are speaking the same language.

Somehow, their words didn’t sound new or unfamiliar. In fact, most of the topics were also written in my automatic writings (that I wrote when I was completely clueless). Some of them came up in some contemplations when I tried to make sense of things, or were questions that bothered me when I was younger.

It’s like my whole life, I just forgot about this state and now I’m starting to remember.


Anyway, after purging mentally, spiritually, and socially, this one is relatively new.

Years ago, whenever someone asked me what kind of pizza I would have, I would say without a doubt, “meat lovers”. 

Although at the same time, I always joked about how by the time I’m 25, I’ll stop eating meats.

Why 25? I had no idea. Especially when 5 months into turning 25, I was still chewing pork ribs and beef meatballs.

But one morning, my body just started rejecting meats, out of nowhere.

I’m not avoiding them, it just happened without me even trying. Just like how it started rejecting alcohol 1,5 years ago, which was also weird remembering the way I lived right before that.

But again, strangely, it feels so natural. I feel like I’m entering a house that I’ve never been in, and yet it feels so familiar and homey.

It feels like I’m new here, but I’m not.

To Accept or To Accept A Bit Later

It’s a really lonely journey.

I constantly feel like I don’t belong anywhere, that I don’t fit in.

Honestly, I have been feeling this way since I was a little kid. I felt like I was different, but not in a good, superior way. Just.. different, as in I was feeling lonely and nobody could really understand me.

Now it gets even lonelier, I lost so many people that I loved so much, I have to let go of someone that I thought was the one. I had, and have to grieve, a lot.

The good news is, I felt okay as soon as I accepted the loss, I was healed as soon as I surrendered to the process. I let go as soon as I let myself grieve.

The bad news? I have to go through the Kübler-Ross cycle of grief at least twice a day.

I’m in the process of accepting the whole journey, obviously. 14 months ago, when my higher-self explained everything about this journey, how it has always been, how it was that time, and how it is going to be, I didn’t understand a thing about it. I thought it was just a hippie-dippy thought that I picked up somewhere and came up during the LSD trip. Or maybe, I was being in denial.

Now, I have walked quite far into this, I have been trying to accept it, I have been following the breadcrumbs and I was led to everything that I needed to know. All in uncanny ways.

Now I know that the hardest part of a spiritual awakening process is not losing people, it’s not losing (what you thought was) yourself, it’s not the feeling of not knowing yourself anymore. The hardest part is meeting your true self, knowing who you truly are, and accepting it. It’s extremely hard.

When the memories you didn’t know you had, came back to you, bringing up all the repressed traumas to the surface.

When your wounds are finally noticeable, demanding you to feel them and take care of them, all by yourself.

When you have to sit face-to-face in a room with your deepest fear, knowing that nobody will come and save you.

When you finally see that you are way more than who you thought you were, and realize you have been treating yourself less than it deserves.

Everything is so intense that my ego wants to cling to my old habits, now more than ever. My ego wants me to develop new obsessions, new addictions, anything to keep me from doing the inner work.

Sometimes my ego acts like a kid who is too scared of seeing something, trying to close its eyes and run across the room. It constantly tries to distract itself because that something is too unfamiliar. It doesn’t even know why that something is scary, it doesn’t even know if that something is, in fact, scary.

Sometimes it’s just like an adult who is too scared to be proven wrong and trying to trick me into thinking that this thing is crazy.

Sometimes it throws tantrum and refuses to say anything other than “Ugh I wish I were dead.”

However, there is no way back, I can only go forward or rest for too long that it confuses me even more. I only have two choices; to accept it, or to accept it a bit later. 

My ego keeps saying it’s unfair.

…and Here I Am

Now I know why people stay in toxic relationships. Both the pain and loneliness are unbearable.

If I’m being insensitive, I’d say a toxic relationship is like cancer, you can only rely on prevention because once you have it, it’s either you surrender to death or you fight 100% until you’re free. There’s no in-between.

…and like cancer, you need support and willingness to be free. You need purpose and reasons to live.

Sadly, it’s hard to get out of the whirlpool when you don’t have any of those or anything else, or at least when you feel like you don’t. You treat the relationship as the only root you’re holding on when you’re about to fall off a cliff. You don’t even know if getting up is going to be better than falling off. You just can’t let go.

You are too scared of falling, you want to make sure that something will be there to catch you when you actually fall. Here, you don’t believe in fate anymore. You want control. Here, it’s not death that you’re so scared of, you’re worried if you survive with broken legs. You are scared if you let go, you’ll struggle to move on. You’re scared of being hurt and lonely. Holding onto a root seems like the only thing that makes sense to you, even if it also hurts, but at least you have hope.

Here, hanging with your hand bleeding seems better than darkness and uncertainty.

Here, you think about the bridges and other roots that you’ve burned. Here, you blame yourself for ending up here. But there is no use, you’re confused, you’re desperate.

Here, you realize you don’t wanna fall because you forgot how to take care of your own wounds. You don’t want to take care of your own wounds. It will be so painful, not only from the wound, but also from loneliness, from guilt after leaving yourself, losing yourself, and letting yourself hurt.

Here, you realize that you won’t fall into darkness and uncertainty if you let go. You will fall into yourself.

and I can see why it’s scary.

Random Tutorial: How to Control iPhone With Broken/Mostly Unresponsive Screen

Since I let go of my iPhone X and downgraded to my old iPhone 6, which is way smaller, I dropped my phone at least 4 times a day. After a few months of constant abuse, my phone had finally given up. The screen was smashed, some small screws came out of I-don’t-know-where. It is still on, but the screen is unresponsive and I can only touch some parts near the bottom of the screen.

I have been okay with it since I’m using WhatsApp web and as long as my phone is connected to a wifi it ever connected, I’m good.

However, I had to deal with it anyway. I flew back to Perth with another phone (which is also shitty) but I had to back up, restore, and blablabla, but the backups are encrypted and I don’t know the password blablabla. Everything needs to send verification code to my old number which I had lost, and I couldn’t connect to any network so I bought $50 worth of data, but my cellular data was turned off, and many more. It was hell, I tried everything and came up with some ideas but there was always something. I STILL NEED TO TOUCH THE SCREEN.

After 6 hours of struggling, googling, desperately downloading random apps that I’m sure are malicious, I found a way to control an iPhone with just one part of your screen working. I’ve Googled it and almost everyone said it’s impossible, but it is possible.

So, here we go:

You just need iTunes, USB, and a little part of your bottom/middle screen that’s still responsive (just enough to make 3-finger-gestures).

  1. Connect your phone to iTunes
  2. Click the little phone icon to open your phone settings
  3. On the “Summary” tab, scroll down until you see “Configure Accessibility…”, click and turn on the VoiceOver. It will allow you to control your phone with simple gestures. Screenshot 2020-02-14 18.28.20Screenshot 2020-02-14 18.28.35
  4. Learn how to use the gestures here: https://support.apple.com/en-au/guide/iphone/iph3e2e2281/ios
  5. On your phone, see the text that is now highlighted (inside a black square), you can navigate through the whole screen by just swiping left and right or tapping anywhere, you can also do more gestures as on the guide above.

It worked like magic! I managed to change my phone number on WhatsApp, configure my network, and did everything I needed with just swipe left-swipe right-double tap-repeat. It requires patience, but it’s way better than nothing!

P.S you can ask Siri to turn on the VoiceOver if your case is you’re connected to the internet but unable to click on “Trust” when you connect to iTunes.

It’s A Spiritual Awakening (damn it!)

I want to start writing about my journey, but I don’t know how to start. Well, honestly, I wrote about it on my Instagram captions, but I totally had no idea what was happening. It’s like a big puzzle whose pieces surprise me every time I found them. 

I had never heard about a spiritual awakening before, even though I come from a really religious and spiritual family, even though I had manifested so many things in my life with my mind, even though I could do lucid dream quite easily.

Well, I have to admit that at some level, I knew that I am some sort of spiritual. I had countless arguments with my parents about religion and questioned so many things about the universe, religions, religiosity, and God since I was 8 years old, but not even once I denied that I felt connected to a ‘higher power’. So, to minimize confusion, I said I ‘created’ my own ‘God’, something that is different to the God that I heard from other people, and to temporarily ease my cognitive dissonance and inner-debate because I haven’t figured my own belief.

I thought I was just lucky. Every time I thought about something I really wanted, it actually happened and I always got what I wanted. I can’t mention them, but they were more than just a new phone, new stuff, or good grades. I manifested the weirdest things people could ask for. Now that I think about it, I should’ve known I was either so blessed or the law of attraction worked for me so strongly. I enjoyed my easy life and I have been bragging about it my entire life. Although, now it has changed, I mean, my perspective has changed and things start to make sense.

It wasn’t until my first LSD trip that I still thought my journey was just a regular journey of a lucky girl with a mild mental illness. Well, technically it was my third LSD trip, but the first two were pure recreational with other people. It was also weird because I had lost the blotter for months. I had been working 7 days a week for 10 months AND I had moved twice since I lost it. It appeared quite magically one day before my first day off and my first time being alone in a share house I was living in.

I was tripping by myself, not expecting anything other than just a ‘break’ since I was stuck in an isolated town during the Christmas period and everyone was gone for holidays. The trip was quite strong, but I didn’t experience much of visuals. Instead, my fingers started typing a 9-page-letter to myself. I got chills every time I read it, it was extremely articulate, it contains answers about my past, my present, and my future, it contains some advice and most importantly, it tells me to meditate, something I had never thought I would do. It’s also full of spiritual terms that I didn’t even know about.

The next day, I started doing research about psychedelics, spiritual stuff, and the things written in the letter. I even thought about the term “higher self” that I swear I had never heard of. I was surprised because I found out, from other people’s writings and journals, that my acid trip was highly spiritual, so I started meditating and the journey continued… for a month. I was too afraid. I was in denial.

At the beginning of the year, I moved to Perth even though I swore I’m not a city person, and for a whole year in the city, I felt like I was running on a long travelator… to the other direction. I experienced constant failures (really, it was like every door I tried to open, slammed in my face), I was oddly miserable in a perfectly good life, my vibration and energy were extremely low, I felt confused all the time, I started doing some long-gone habits, every day felt the same and yet somehow so different and not connected to the previous day. My subconscious mind did everything it could to make me feel like myself again.

During that year, I had so many vivid dreams about my childhood, sometimes it wasn’t even a dream. I could be busy cooking and I got glimpses of memories that I didn’t even know I had. I got triggered by some neutral events and acted like a lunatic. One day, I found out, again, from the internet, that it was my wounded inner child that is ready to begin the healing process. Does it sound crazy to you? It does to me too, I swear. I feel crazy!

But I confirmed the memories, they actually happened. I confirmed the experience by looking up on the internet, and again, it was something that so many people experienced during their spiritual awakening, apparently. (Damn it, even when I’m writing this I still can’t accept it.)

The End of December 2019

A whole year had passed after the acid trip, or as it turned out, was called “chemical enlightenment”. In the middle of my desperation, I started meditating again, this time it was just an attempt to get myself together. But instead, I get more and more confused and every single day, I think I am going crazy. I feel so disconnected and alienated. I feel like I have some new beliefs and faith that my logic is still fighting against. When I write this, I’m back in Bali, my hometown, and have been staying at home for 3 weeks. I have no desire to connect to my old life, or my old activities, or even my friends.

I sometimes think it’s my mental illness that is playing with me. I was diagnosed with bipolar disorder when I was 22, but again, (damn it), as I watched so many Youtube videos and blogs of people who are now “spiritually awakened”, they too had been diagnosed with bipolar disorder, ADHD, depression, and they experienced almost exactly what I experienced. Every symptom on every list that I found was exactly me, and according to them, the whole experience is not a mental illness, they were just signs of awakening.

If someone asks me how I’m doing now, I still feel crazy. I feel more confused than ever. I feel more disconnected and disoriented, but at the same time feel more connected to something (I want to say the Universe, but it sounds so hippie-dippy). I made fun of my friends by calling them hippies when they were into this kind of stuff. I don’t even know why I thought it was funny, I was so young and they were in their 20s. That’s also one of the reasons why I’m being so resistant and in denial, if I start telling my friends about my journey and how uncanny it is, I’m sure they will call me “hippie” or think I’m just a ‘bipolar’ girl who develops psychotic symptoms.

There are so many missing pieces that I didn’t tell in this story because they were so uncanny and I’m still processing everything. However, I know that the journey didn’t start on the day I found the LSD, it started since I was so young because every single piece of my journey was connected to the next one and led me to this day. Wow, so weird. Damn it.

(and yet) Another Hook

Benarkah Instagram, Facebook, dan Twitter ‘hanya platform’?

Benarkah orang-orang yang mengunggah tweet atau foto setiap saat hanya “gabut” atau “caper”?

Mungkinkah kegiatan kita di media sosial adalah hasil manipulasi dan kita adalah kelinci percobaan?


Bukan “Gabut”, Tapi Adiksi

Saya masih ingat teriakan Mama beberapa tahun lalu melihat saya menghabiskan waktu bermain smartphone hampir seharian. Sekarang, setiap percakapan telepon dan video call kami berisi cerita Mama saya soal jumlah likes, komentar, dan kehidupannya di Facebook.

Adiksi terhadap smartphone bukan lagi sesuatu yang baru dan begitu umum sampai dianggap wajar dan biasa saja.

Kenyataannya, smartphone secara spesifik didesain dan diperbaharui untuk membuat kita “kecanduan”. Tristan Harris, mantan product manager perusahaan besar Google mengakui hal ini, “your telephone in the 1970’s did not have a thousand engineers on the other side of telephone who were redesigning it everyday to be more and more persuasive.”1

Kecanduan atau adiksi diartikan sebagai tindakan mencari atau melakukan sesuatu secara berkelanjutan tanpa memandang konsekuensi negatif.

Apa ini salah kita?

Sayangnya, tidak 100%.

Para engineers dan desainer yang disinggung Tristan Harris tahu bagaimana meningkatkan perilaku adiksi, dan mereka menggunakan pengetahuan tersebut untuk memanipulasi zat kimia otak kita supaya kita menghabiskan lebih banyak waktu bermain gadget.

Mereka memanfaatkan zat kimia otak yang disebut dopamin.

Apa itu dopamin?

Mudahnya, dopamin adalah hormon dalam tubuh yang bertanggung jawab atas banyak hal, termasuk kegembiraan dan motivasi. Dopamin dilepas pada situasi-situasi yang menyenangkan sehingga kita cenderung mencari dan menginginkan situasi tersebut berulang-ulang. Aktivitas neuron dopamin meningkat sebagai respon terhadap situasi menyenangkan atau reward, bahkan terhadap tanda-tanda datangnya situasi menyenangkan atau reward.

Inilah yang dimanfaatkan para desainer teknologi. Dengan memanipulasi pelepasan dopamin, otak bisa meminta kita melakukan sesuatu berulang-ulang demi mendapat sensasi yang sama.

Ramsay Brown misalnya, mendirikan start-up bernama Dopamine Labs yang menciptakan brain-hacking code untuk perusahaan-perusahaan aplikasi.

Bagaimana cara kerja Dopamine Labs?

Pertama, menggunakan prinsip psikologi yang disebut penguatan sebagian atau variable rewards. Kalau kalian membaca contoh ringan saya sebelumnya di sini, mudah dipahami bahwa “hadiah” yang muncul secara acak dan tidak terduga akan lebih mungkin membuat kita “penasaran” dan membuat kita sulit berhenti melakukan sesuatu.

Hal ini dianalogikan Tristan Harris sebagai mesin slot kasino, yang membuat kita terus mencoba karena setiap percobaan mengandung ketidakpastian dan kemungkinan akan hadiah. Pada level yang lebih dalam, ini berkaitan dengan pelepasan dopamin tadi.

Kedua, semakin banyak data pengguna yang dikumpulkan, aplikasi melewati proses personalisasi. Dopamine Labs menggunakan artificial intelligence software bernama Skinner (yang tentu saja berasal dari ilmuwan psikologi B.F. Skinner), yang memantau kegiatan pengguna aplikasi, sehingga aplikasi dapat menyesuaikan kebutuhan dan aktivitas pengguna.

Berita baiknya, Dopamine Labs menerapkan sistemnya pada aplikasi-aplikasi kesehatan, diet, dan pembelajaran. Berita buruknya, cara yang sama digunakan aplikasi-aplikasi lain termasuk media sosial untuk membuat kita para pengguna, kecanduan.

Dengan memanfaatkan cara kerja dopamin, aplikasi membentuk perilaku, pikiran, dan perasaan pengguna yang berujung pada adiksi.

Kalau kalian dengar orang-orang bijak berkata, “media sosial itu hanya platform dan netral, kita sebagai manusia yang memegang kontrol.”, silakan kirim tulisan ini dan link-link terkait di bawah karena itu salah besar.

Sebagai contoh, Instagram mendeteksi aktivitas kita dan menahan pemberitahuan adanya likes baru, untuk kemudian muncul, atau lebih tepatnya menyerbu dalam waktu bersamaan di waktu yang mereka rasa efektif. Hasilnya? Saat kita berpikir untuk menutup Instagram, mendapat “serbuan” likes membuat kita berubah pikiran dan kembali menunggu likes selanjutnya.

Contoh lainnya adalah Snapchat streak. Masih ingat emoji yang berubah-ubah tergantung seberapa intens kita berkomunikasi dengan pengguna lain? Snapchat streak adalah “hadiah” berkelanjutan yang bisa kita dapatkan semakin sering kita menggunakan Snapchat. Lebih parah lagi, hadiah yang tampaknya “tergantung pada kita” ini bisa hilang kalau tidak dipertahankan. Dengan kata lain, selain mendorong kita untuk terus-terusan berkomunikasi dengan pengguna lain untuk mendapat “hadiah” selanjutnya, kita juga harus terus-terusan kembali dan “menjaga” hadiah tersebut. Trik Snapchat streak juga menimbulkan kecemasan pada remaja akan hilangnya “hadiah” atau poin tersebut.2

Contoh lain yang menarik adalah algoritma linimasa. Instagram, Twitter, dan Facebook mengganti tampilan linimasa sehingga yang kita lihat tampak acak dan bukan sesuai urutan waktu. Sebenarnya, yang kita lihat adalah hasil algoritma berdasarkan aktivitas kita, misalnya foto-foto yang kita suka dan interaksi kita dengan pengguna lain.

Apa hasilnya? Banyak. Kita “tanpa sengaja” bertemu pengguna-pengguna lain yang cara berpikirnya serupa dengan kita, atau memiliki pandangan politik yang sama dengan kita. Foto-foto dan berita baru terkait dengan apa yang kita lihat sebelumnya terus-terusan muncul dan membuat kita semakin penasaran, atau kita menjadi lebih sering melihat foto atau tweet terbaru teman-teman dekat kita daripada orang yang tidak kita kenal sama sekali.

Tanpa perlu penjelasan ilmiah atau psikologis, sangat jelas bahwa hal-hal tersebut membuat kita lebih betah berlama-lama di media sosial.

Selain dopamin dan manipulasi yang dilakukan perusahaan-perusahaan aplikasi, adiksi terhadap smartphone juga terkait dengan kecemasan. Pernah dengar istilah FOMO (Fear of Missing Out) atau kekhawatiran melewatkan sesuatu? Akses informasi yang mudah dan cepat lewat smartphone membuat kita merasakan kekhawatiran tersebut meskipun hanya dalam beberapa menit. Kita merasa cemas kalau-kalau ada sesuatu yang kita lewatkan selama kita berkegiatan tanpa mengecek smartphone.

Tanpa kita sadari, rasa cemas yang terjadi setiap kita berkegiatan tanpa smartphone lama-kelamaan mendorong kelenjar adrenal melepaskan kortisol atau hormon stress. Kortisol membuat kita merasa cemas dan mengecek smartphone adalah cara untuk meredakan kecemasan. Rasa lega ketika mengecek smartphone dan rasa cemas tanpa smartphone inilah yang meningkatkan adiksi terhadap smartphone. Kecemasan lainnya adalah rasa canggung di situasi sosial dan dapat diredakan dengan meraih smartphone.

Jadi, adiksi terhadap smartphone bukan semata-mata berasal dari popularitas, likes, pekerjaan, dan sensasi dari merasa penting dan spesial. Hal-hal tersebut hanya hadiah-hadiah lain yang meningkatkan adiksi kita.


Tapi Kenapa? Apa Tujuannya? Untuk Siapa?

Aplikasi-aplikasi media sosial tidak berbayar karena mereka bukan diciptakan untuk kita, para pengguna.

Klien mereka sebenarnya adalah perusahaan pengiklan. Sesederhana itu.

Fitur-fitur terbaru dari smartphone dan media sosial bukan demi kebahagiaan dan kepuasan para pengguna, melainkan untuk menarik atensi dan data pengguna sebanyak-banyaknya untuk “dijual” kepada perusahaan pengiklan.

Satu contoh mengenai data dan informasi adalah tracking, profiling, dan targeting. Singkatnya, data dan informasi pengguna baik yang diunggah maupun aktivitas di internet dan sejarah pencarian digunakan perusahaan pengiklan untuk memunculkan iklan yang spesifik. Semakin sering kita menggunakan internet dan media sosial, perusahaan-perusahaan tersebut semakin “mengenal” kita dan tahu apa-apa saja yang sudah pasti menarik perhatian kita. (Hal ini sekarang sudah semakin jelas dan lebih terang-terangan dengan adanya persetujuan cookies dan iklan-iklan produk terkait yang langsung muncul di semua media sosial.)

Namun, yang lebih menarik adalah atensi.

Atensi sebagai sesuatu yang kita beri secara gratis, tidak membuat kita merasa kehilangan dibandingkan data dan privasi.

Fitur-fitur yang semakin hari semakin menarik atensi kita tentu saja memperkaya perusahaan-perusahaan aplikasi tanpa membuat kita merasa dirugikan.

Apa benar kita tidak dirugikan?

Meskipun proses manipulasi dan adiksi sudah berlangsung lama, dampak negatif smartphone semakin hari semakin jelas dan terasa sekarang. Banyak sekali penelitian dan artikel terkait dengan depresi dan kecemasan yang disebabkan oleh media sosial.

Dampak negatif lainnya yang terasa tentu saja berkurangnya produktivitas, meningkatnya tekanan sosial dan perilaku konsumtif, serta dampak sosial lainnya seperti provokasi massa, berkurangnya empati, dan perasaan terisolasi.

Meskipun banyak pengguna mendapatkan uang melalui media sosial, serta atensi adalah hal cuma-cuma dan tidak ada habisnya, dampak dan adiksi terhadap smartphone ternyata jauh lebih serius. Di antaranya:

1. Mengubah struktur dan aktivitas otak

Neuroplastisitas membuat otak kita secara terus menerus berubah secara struktural dan fungsional berdasarkan pengalaman dan input dari lingkungan. Melakukan suatu aktivitas secara berulang-ulang memperkuat hubungan antar neuron, yang dapat berguna dalam pembelajaran, latihan, dan pembentukan kebiasaan. Sayangnya, ini berlaku juga ketika kita meraih smartphone berulang-ulang. Banyak penelitian yang menunjukkan pengaruh smartphone dan internet terhadap struktur dan aktivitas otak, bahkan terhadap hubungan otak dengan ibu jari.

2. Melemahkan memori

Handphone di awal kemunculannya, dengan fitur kalender dan kontak, mempermudah kita menyimpan agenda dan nomor telepon tanpa perlu mengingat dan menghapal. Meskipun demikian, kita masih perlu mengetik nomor telepon dan agenda tersebut sebelum kemudian menyimpannya. Seiring dengan berkembangnya teknologi, kita bisa menyimpan ribuan nomor telepon tanpa perlu melihat atau menyebutkan angka-angkanya.

Fitur lain seperti Maps dan kamera membuat kita merasa tidak perlu mengingat ketika bertanya arah, dan bahkan tidak perlu lagi mendengarkan dan mencatat di kelas. Cukup arahkan kamera ke papan tulis, slide presentasi, atau buku pinjaman.

Lebih buruk lagi, kita tidak perlu berpikir keras dan mengingat-ingat hal-hal kecil, lirik lagu, dan hampir semua hal karena kita selalu bisa menggunakan mesin pencari di internet.

Istilah Google Effect atau Digital Amnesia menggambarkan bagaimana kita tidak lagi bergantung pada memori dan otak kita, karena kita tahu apa pun bisa kita temukan di internet dan tentu saja sesuai namanya, Google.

3. Mengurangi kemampuan berpikir dan konsentrasi

Berkonsentrasi merupakan hal yang sulit karena membutuhkan dua hal: memusatkan perhatian dan mengabaikan hal lain.

Pertama, memusatkan perhatian merupakan hal yang sulit karena melibatkan bagian dari otak yang disebut prefontal cortex sebagai pembuat keputusan dan kontrol diri. Prefrontal cortex dapat menjadi lelah jika kita dihadapkan pada banyak keputusan dan informasi, inilah yang membuat pikiran kita melayang ke hal-hal lain.

Banyaknya informasi yang hadir dalam satu layar dan banyaknya keputusan yang kita buat seperti menutup iklan membuat kemampuan berkonsentrasi menjadi lemah, bahkan ketika tidak sedang dihadapkan dengan smartphone.

Kedua, perhatian manusia yang mudah teralihkan pada dasarnya adalah salah satu cara bertahan hidup (menyadari bahaya yang datang di sekitar ketika sedang melakukan sesuatu). Hanya saja, smartphone memperparah dan mempercepat pengalihan perhatian dan memaksa kita “berfokus” pada banyak hal.

Sementara hasil penelitian Clifford Nass, dkk. (2009) menunjukan bahwa multitasking mengurangi kemampuan untuk berpikir jernih dan fokus. Singkatnya, multitasking berarti melakukan beberapa hal dengan mengurangi performa di masing-masing hal. Dan berkurangnya performa ini terbawa bahkan ketika kita dihadapkan pada ­single-task.³

4. Adiksi itu sendiri

Sama halnya dengan adiksi-adiksi lain seperti pada zat, judi, dan pornografi, adiksi terhadap smartphone juga memiliki fitur-fitur kunci: compulsive use, craving, tolerance, withdrawal.

Hal-hal tersebut, terkait dengan prinsip “hadiah” dan kerja dopamin, membuat kita semakin sulit berhenti seiring dengan berlangsungnya perilaku adiksi.

Tolerance atau toleransi membuat kita terus menerus meningkatkan perilaku adiksi. Dalam hal ini, semakin lama dan sering kita menggunakan smartphone, keinginan kita untuk terus menggunakan dan meraih smartphone juga akan semakin tinggi, dan akan terus meningkat. Damba terhadap likes, retweets, balasan, dan “hadiah-hadiah” lain yang memicu pelepasan dopamin juga akan terus meningkat. Hal ini yang mendorong pengguna melakukan hal-hal yang semakin ekstrem di setiap konten.

Semakin tinggi tingkat adiksi kita terhadap smartphone atau media sosial, akan muncul tanda-tanda withdrawal seperti kecemasan saat kita berusaha berhenti atau mengurangi kebiasaan meraih smartphone. Pada tahap ini, meraih smartphone atau membuka media sosial bukan lagi untuk mendapat kesenangan, melainkan hanya untuk mengurangi kecemasan dan perasaan-perasaan tidak nyaman. Sayangnya, hal ini tetap berlaku meskipun smartphone dan konten-konten di media sosial itu sendiri juga menimbulkan stres dan perasaan tidak menyenangkan.


Berikut beberapa referensi dan informasi lanjutan jika kalian tertarik dan ingin tahu lebih dalam:

Dopamine Labs, Ramsay Brown, dan Tristan Harris:

¹ 2017: What is “Brain Hacking”? – https://www.youtube.com/watch?v=ML55uumQgzA

² Dopamine Labs – https://youtu.be/9x8jOvhxs9w

-Artificial Intelligence + The Neuroscience of App Addiction with Ramsay Brown on MIND & MACHINE – https://www.youtube.com/watch?v=ITtdUN5BbEw

-Tristan Harris (lengkap) – http://www.tristanharris.com/essays/

Lain-lain:

³ Jurnal Cognitive Control in Media Multitaskers – Clifford Nass – https://www.pnas.org/content/106/37/15583?wptouch_preview_theme=enabled

– Artikel FOMO- The Science of FOMO and What We’re Really Missing Out Onhttps://www.psychologytoday.com/us/blog/ritual-and-the-brain/201804/the-science-fomo-and-what-we-re-really-missing-out

– Jurnal Motivation and Emotion, Milyavskaya, M., Saffran, M., Hope, N. et al. 2018- https://link.springer.com/article/10.1007%2Fs11031-018-9683-5

– Jurnal Google Effects on Memory: Cognitive Consequences of Having Information at Our Fingertips. Daniel, M.W. et al. 2011- https://science.sciencemag.org/content/333/6043/776.full

– Buku How to Break Up With Your Phone dari Catherine Price (2018)

– Untuk data privacy, bisa dimulai dengan mencari artikel-artikel dan jurnal partner saya: Julia Powles.

Susahnya Nggak Pernah Susah

Sebenarnya udah lama pengin nulis soal WHV, tapi nggak sempet-sempet karena sibuk… mengeluh :))

Dan nggak berasa tau-tau udah tahun kedua aja.

Banyak banget cerita yang dari dulu mau dibagi, dari awal visa granted sampai sekarang udah tahun kedua dan tinggal di kota (Perth). Dari miskin.. sampai sekarang miskin lagi.

Sebenarnya kalau liat ke belakang dan mencerna pengalaman selama tahun pertama, hampir nggak ada yang menarik dan adventurous. Tapi ketika dijalani, dramatis abis!  :))

Kenapa? Benar, karena manja!

Ya bukan dari keluarga yang tajir melintir dan punya perusahaan yang bisa diwarisin, sih. Bukan juga anak yang apa-apa dilayani dan dipanggil “non Kristi” sambil sarapan roti tawar dan oren jus. Aku jadi “manja” karena memang selama 22 tahun hidup belum pernah dihadapkan sama kesusahan yang harus dihadapi sendiri. Punya orang tua yang permisif tapi protektif, lingkungan yang kurang menantang, bikin aku tanpa sadar nggak pernah belajar keterampilan apa pun dan hidup terbilang mulus-mulus aja. Tapi selama hidup aku selalu berusaha untuk cari tantangan supaya bisa keluar dari zona nyaman, WHV ini salah satunya.

Dimulai dari berangkat ke Perth tanggal 2 Februari 2018, langsung ke Fremantle, urus TFN dan bank account, kemudian hari ketiga liat postingan Mbak Dian Sarah junjungan kita semua soal kerjaan dishy di Margaret River. Kucoba apply, dan besoknya langsung diterima.

Rasanya overwhelmed banget. Baru selesai rawat inap di RS di Bali, langsung berangkat ke negara lain sendirian dengan tas ransel seberat 26 kg. Baru 2 hari menyesuaikan diri dan mencerna dunia baru, udah harus pindah SEGERA. Jadilah aku cari tau cara ke Margaret River dari Fremantle pagi-pagi, naik turun Elizabeth Quay Station menggendong ransel bedebah yang bikin mau nangis.

image1

kura-kura ninja

Margaret River dan Tahun Pertama

Sampai di sana juga langsung dijemput Mbak Dian, apa-apa dibantu dan diantar sebelum akhirnya beli mobil seharga $350 saja.

Kerjaan di sana juga bisa dibilang gampang banget (lagi-lagi, kalau dipikirin sekarang). Karena tugasnya cuma cuci piring dan bikin minuman dingin. Tapi karena aku nggak punya pengalaman, bahkan nggak tau kalau harus pakai gloves, dan teramat manja, awal-awal dramatis juga dan tangan berdarah-darah akibat…… membelah frozen smoothie pack.

Ya, cuma membelah jadi dua itu pack yang padahal sebesar telapak tangan.

Ya, padahal pakai pisau roti.

Dan ya, nggak cuma terjadi sekali.

Segitu buruknya keterampilanku.

Tiap ada waitress yang minta tolong baik-baik untuk cuci cutlery, aku merasa tertekan gitu karena nggak pernah kerja atau disuruh-suruh. Bahaha

m a n j a!

Akhirnya, jam kerjaku dikurangi drastis karena payah dan aku harus pindah kamar ke tempat yang lebih murah dan dekat ke pusat kota.

image2
bisa tidur sambil bercocok tanam

Mulai seru ini hidup, waktunya berjuang!

Kucoba buka Gumtree, ada lowongan kitchen hand di winery.

Coba apply, eh satu jam kemudian dihubungi dan diterima. Dan besoknya ada yang nawarin kamar bagus dan modern dengan harga murah.

Nggak jadi berjuang.

Jadilah aku per minggu kerja 35 jam di winery dan 14 jam di café. Kerja di winery itu adalah kebahagiaan duniawi. Kerja gampang, gaji oke, kerja juga dibantuin chef (kebalik, kan!), dapet fancy lunch setiap hari, kopi, wine gratis, orang-orangnya pun super seru.

Sampai akhirnya aku merasa lagi-lagi terjebak di lingkungan yang enak dan nyaman. Kebetulan juga udah waktunya untuk cari kerjaan untuk persyaratan visa tahun kedua.

Mulai lah sok ide, beli mobil yang sedikit lebih mahal (dibanding $350) dan berencana untuk road trip sendiri ke Broome dan cari kerja di sana. Seru banget pasti!

Terus sambil memikirkan rute road trip, coba-coba buka Gumtree lagi, iseng apply satu kerjaan sebagai kitchen hand/all-rounder di salah satu mining town di Pilbara; Paraburdoo.

Eh, keterima.

Belum juga siap untuk road trip, belum juga kasih notice kalau mau quit dari kerjaan.

Pihak employer bahkan mau bayarin + booking-in tiket pesawat dari Perth, dan karena aku keukeuh mau road trip, mereka pasrah dan milih bayarin bensinku selama road trip.

Lagi-lagi, berangkat tanpa persiapan jelas dan buru-buru. Tapi akhirnya berhasil nyetir sendiri selama 4 hari sejauh 2000++ km dengan mobil seharga $1500 yang nggak aku cek, apalagi service.

image1-2
hampir 3/4 perjalanan nggak ada kendaraan lain atau tanda-tanda kehidupan satu pun

Sampai di sana, ternyata selain difasilitasi kamar pribadi, wi-fi, makanan, minuman, dan snack gratis setiap hari, juga disediakan mobil. Jadi lah kujual mobilku dan tau, nggak? Ternyata mobilku itu banyak banget masalah di mesinnya.

Jangan tanya gimana aku bisa selamat dan lancar sampai di sana. Aku beruntung soalnya.

Kerja 50 jam lebih setiap minggu, pas di sana terasa lumayan berat karena nggak ada libur dan di kotanya benar-benar nggak ada apa-apa selain IGA.

Padahal kalau dipikir-pikir sekarang, kerjaan di sana juga gampang banget, seringnya cuma duduk jaga “warung”, sambil motong tomat seadanya kalau bosen.

Dengan semua mulusnya jalanku sebelum apply visa tahun pertama sampai masuk ke tahun kedua, aku masih hidup dengan pikiran bahwa hidup dan WHV ya memang begitu; nggak perlu banyak perjuangan dan akan selalu enak.

Akhirnya, setelah hampir 6 bulan, aku mulai merasa terlalu nyaman lagi dan memutuskan meninggalkan Paraburdoo dengan pikiran bahwa hidupku akan selalu begitu; mulus-mulus aja dan aku harus secara konstan cari tantangan.


Second Year di Perth

Hahahahahah! Aku banyak menertawakan diri sendiri di sini setelah rasanya lebam-lebam berkali-kali dihajar “kehidupan nyata” (setelah nangis-nangis pastinya).

Ketiga kerjaanku yang super enak sebelumnya adalah hasil percobaan pertama dari setiap proses pencarian kerja. Jadilah kupikir, semua pekerjaan yang kita apply pasti akan dapet.

Di sini lah hidup mulai terasa “susah”, aku apply puluhan pekerjaan per minggu dan nggak ada satu pun balasan. Kalau pun diundang wawancara dan trial, ditolak.

Sampai akhirnya aku dapet kerjaan di satu café di daerah CBD sebagai all-rounder. Bisa dibilang daftar kerjaannya hampir sama dengan kerjaan di Paraburdoo, jadi aku dan employer sama-sama percaya diri di awal.

Tapi di sinilah tamparan kedua.

Di Paraburdoo, orang-orang cenderung baik, tenang, dan nggak banyak menuntut. Juga karena di sana hampir nggak ada persaingan usaha, semua orang ‘nerima’.

Aku waktu mulai kerja nggak bisa dan nggak pernah masak SAMA SEKALI, tapi orang-orang di sana nerima kalau makanannya jelek, salah saus, salah ini, salah itu. Aku nggak pernah belajar soal kopi barista sebelumnya, tapi orang-orang di sana selalu nerima meskipun susunya terlalu panas dan kopi jadi hambar. Nggak pernah ada yang protes dan mereka tetap datang setiap hari.

Kembali ke kerjaanku di café di CBD, aku dituntut untuk bisa kerja yang benar-benar all-rounder; jadi kasir, waitress, barista, masak dan bikin minuman, bersih-bersih, dll. Sebenarnya ya sama dengan kerjaan sebelumnya, tapi ini café di tengah kota yang super sibuk dan aku hanya akan dibayar $18, yang mana itu nggak sesuai minimum wage. Kemudian di hari kedua, pemilik café bilang dia mau liat knife skills-ku. Ah! Inget kejadian berdarah-darah di Margaret River? Boro-boro knife skills!

Akhirnya aku disindir dan dimaki-maki karena nggak bisa motong tomat dengan benar.

Itu cuma satu kejadian, banyak banget cerita di Perth yang bikin aku stres dan sedih. Aku jadi pengangguran 3 bulan dan udah habis hampir setengah dari tabungan WHV tahun pertama. Borosnya karena menghibur diri setiap gagal karena mentalku ternyata lemah, nggak paham kehidupan dan alur kota, bayar denda pas nggak sengaja melanggar aturan, kena jebak pas nyewa kamar, dan… ini dia tamparan ke-sekian: driving test.

Jadi, aku berusaha apply kerjaan fly in-fly out yang butuh Australian Driver’s Licence, aku nggak ambil kursus mengemudi yang serius karena lagi-lagi, otak naifku soal kehidupan mikirnya, “ah, nyetir doang”.

Alhasil aku gagal 4 KALI, baru berhasil setelah akhirnya 7 jam kursus dan pergi ke kota kecil 2 jam dari Perth untuk tes (sebelumnya juga ke sini tapi kena immediate fail karena sotoy). Yang bikin down adalah komentar-komentar yang nggak pedas-pedas amat dari asesor dan instruktur-instruktur mengemudi yang penuh drama dan salah satunya bahkan teriak-teriak selama SATU JAM tepat sebelum tesku. Jadilah gagal beserta trauma. :))

Kerjaanku selama 3 bulan lebih sering duduk di tepi Swan River, merenung.

Ini kesannya dramatis tapi beneran. (dan karna emang tinggal di seberangnya juga, sih)

Dari kecil hidup mulus-mulus aja, punya visa WH pun tanpa melewati masa ngebet berbulan-bulan dulu. Di sini baru ketemu kegagalan dan pembelajaran berturut-turut, nggak ada orang tua yang bisa intervensi atau geng yang bisa menghibur. Nggak ada safety net, jatuh sendiri, bangun sendiri.

Terus suka bingung sama diri sendiri:

dikasih gampang, kalo nggak keenakan ya bosen. Susah dikit, ngeluh.

Ternyata, hidup dan WHV itu nggak susah, yang susah itu kalau kita nggak pernah “susah”.

Kerja di Australia berat?

Ya, kalau kamu punya keluarga kaya dan bisa beli apa aja sekali kedip, memang berat.

Tapi kalau kamu terbiasa dan berpengalaman misalnya di bidang hospitality atau kerja fisik, WHV itu enak banget. Dibayar per jam, orang-orang di sini lebih considerate dan hampir nggak ada superioritas-inferioritas antara pekerja dan pelanggan. Kerja lembur? Dibayar. Merasa diperlakukan nggak adil? tinggal lapor pasti ditindaklanjuti.

Susah cari kerja di Australia?

Ya, kalau kamu di Indonesia punya ‘saudara’ di mana-mana dan bisa ngasih kerjaan dengan embel-embel saudara, ya susah.

Tapi di sini ada banyak situs pencari kerja, facebook (yang di sini sangat berguna dan bukan cuma berisi hoax pilpres), kerjaan selalu ada, negara luas, kesempatan banyak, asal mau pindah-pindah state (aku belum mau soalnya) atau perluas peluang dengan bikin sertifikat atau ikut kursus (yang lagi-lagi bisa didapat dengan mudah secara online).

Kita juga beruntung karena visa 462 bisa diperpanjang dengan pilihan hospitality dan cakupan wilayah yang luas. Backpackers dari Eropa harus berkutat dengan penipuan, perbudakan di farm ilegal di daerah antah berantah, pindah-pindah farm karena musim, dijebak working hostel, dan sebagainya.

“Di Australia banyak peraturan dan susah!”
Ya, kalau kamu terbiasa pakai jasa calo, kalau kamu udah nyetir mobil sebelum umur 17, suka naik motor bertiga nggak pakai helm, kalau tiap ditilang kamu suap polisi 50 ribu atau sebut nama saudara yang polisi, memang susah.

Tapi kalau kamu terbiasa “susah” dalam artian suka dan terbiasa mengikuti peraturan dan birokrasi, di sini semua lebih mudah. Semua hampir selalu tepat waktu, sistem dan peraturan jelas dan orang lain pun patuh, nggak ada sogok menyogok, antrianmu nggak akan diselak sama yang “punya kenalan orang dalam”.

Untuk driving test pun (yang sempet aku benci banget), sebenarnya dikasih buku-buku panduan gratis dan semuanya lengkap selengkap-lengkapnya, jelas, dan transparan.

Aku gagal berkali-kali karena nggak kebayang dan menggampangkan, lagi-lagi karena sejujurnya aku nggak pernah sekali pun ujian SIM di Indonesia, sesederhana karena petugas ngasih aja SIM-nya tanpa disuruh ujian. Entahlah.

“Pokoknya hidup di sini susah!”

Kesusahanku selama WHV murni karena aku nggak pernah “susah”.

Karena aku dimanjakan keberuntunganku sendiri dan sayangnya, negara kita, yang standar susah/gampangnya agak aneh, nggak ada parameter yang jelas, dan seringnya nggak pada tempatnya.

Mentalku ternyata lemah dan nggak punya keterampilan berkehidupan sama sekali karena nggak ada kejadian yang mengasah itu semua, ini baru aku sadari setelah WHV.

Australia dan WHV ini sebenarnya dan seharusnya stress-free, tantangan-tantangan yang kita dapat memang harusnya karena kita yang cari, bukan menderita karena keharusan.

Selesai kerja bisa langsung buka medsos, tidur, jalan-jalan, atau nonton Netflix, nggak perlu bawa kerjaan ke rumah atau nggak bisa tidur karena kepikiran kerjaan. Ya kan nggak mungkin piring belum selesai dicuci terus dibawa ke rumah atau bawa pulang pohon ceri buat diperetelin sambil nonton TV.

“Apa-apa mahal”, tapi selalu ada pilihan untuk hidup murah (frozen foods, soup kitchen, op shops itu contoh-contoh kecilnya) dan lagi, di sini bayarannya tinggi (kalau kerja di tempat yang legit dan patuh sama hukum dan minimum wage). Di Indonesia nggak ada yang bayar kamu 200 ribu rupiah per jam untuk cuci piring, pakai mesin pula!

WHV itu fleksibel. Kalau nggak mau kerja, ya liburan lah. Kalau mau cari uang aja, ya kerja lah. Kalau mau traveling-kerja-traveling-kerja, ya silakan. Nggak ada ikatan, nggak ada kontrak kerja seumur hidup, nggak ada rasa nggak enak sama tetangga atau keluarga besar kalau mau pindah state atau kejar kesempatan (ya pasti ada kasus-kasus pengecualian tapi bukan itu poinnya).

Kalau ada yang bilang WHV bukan untuk anak manja, nggak juga. Justru ini saatnya belajar mandiri.

WHV bukan untuk yang maunya selalu manja,

itu masuk akal.

Cerita dan foto-foto lain ada di Instagram: kristizia

It’s Okay to Be Okay

Setiap hari, saya dipercaya cukup banyak orang untuk mendengarkan cerita mereka. Beberapa di antaranya cuma bercerita bahwa hidup mereka terlalu kosong untuk dijadikan cerita. Mereka bertanya, apakah wajar jika tidak merasakan apa-apa? Apakah wajar jika hidup datar-datar saja?

Perasaan-perasaan itu mengingatkan saya pada masa ketika saya juga merasa datar-datar saja. Suatu perasaan asing dan mengerikan bagi orang dengan gangguan afektif seperti saya. Terapi obat yang mulai berhasil membuat saya merasa baik-baik saja dan justru tidak nyaman. Mengingatkan juga pada hal yang saya takutkan saat ini, saat saya memulai lagi terapi obat yang pernah saya hentikan dengan alasan yang sama; takut baik-baik saja.

Tidak merasakan apa-apa itu bukan apa-apa.

Tidak perlu dibesar-besarkan. Sama seperti emosi lain, semuanya adalah fase.

Kadang, kutipan-kutipan untuk menghibur orang-orang yang sedang bermasalah malah membuat merasa bahwa kita SEHARUSNYA bermasalah.

Padahal, tidak juga.

Mungkin masalah itu ada, tapi kita sudah cukup kuat untuk tidak merasa terganggu, untuk tetap bisa tidur nyenyak dan makan enak.

Mungkin juga prioritas kita berubah sehingga hal-hal yang kurang sempurna tidak lagi jadi sesuatu yang salah.

Kita terbiasa membuat dikotomi, hitam-putih, kalau tidak sedih, harusnya senang, sehingga ketika ada di abu-abu, rasanya aneh.

Padahal, sama seperti emosi dan kejadian-kejadian lain, rasa baik-baik saja juga cuma butuh diterima.

Terima bahwa ternyata hidup tidak seburuk kelihatannya, bahwa masih banyak yang bisa kita syukuri keberadaannya, bahwa hidup memang begini adanya; baik-baik saja.

Tidak ada yang salah dengan baik-baik saja, kadang sukar diterima.

Keadaan baik-baik saja kemudian diusik rasa curiga, jangan-jangan setelah ini ada tamparan tepat di muka, atau rasa hampa, masa’ iya, hidup begini-begini saja?

Tidak ada yang salah dengan baik-baik saja, baru bisa disalahkan jika kamu dengan sengaja melepas tanggung jawab, lari dari masalah, sembunyi di zona aman, lalu mengeluh hidup kurang tantangan.

Sama dengan rasa sakit hati, sedih, sukacita, rasa baik-baik saja cuma butuh diterima.

Kamu tidak harus bermain api untuk menyibukkan diri. Perkara tidak perlu dicari-cari.

Jika kamu baik-baik saja tanpa pasangan, baik-baik sajalah. Tidak perlu memaksa berelasi karena merasa ada yang salah.

Jika kamu tak punya masalah, terimalah. Ini bagian dari fase hidupmu, suatu saat pasti kamu rindu.

Terima.

Terima.

Terima.

It’s okay to be okay.